Manakah yang lebih berbahagia? Orang yg dapat hadiah jutaan dolar atau orang yg tiba-tiba lumpuh tangan & kakinya?
Menurut hasil riset dari Dan Gilbert, psikolog peneliti dari Harvard University, dua kelompok orang tersebut dalam waktu setahun setelah terjadinya musibah atau rejeki nomplok itu, akan memiliki tingkat kebahagiaan yg relatif sama.
Kok bisa seperti itu? ya, karena kita semua mengalami “Impact bias”, yaitu kecenderungan untuk membesar-besarkan (overestimate) terhadap dampak (hedonic impact) dari peristiwa yg akan terjadi”. Kita merasa akan sangat bahagia jika akan dapat rejeki nomplok, atau sangat menderita jika akan dapat musibah besar. padahal kenyatanya, begitu musibah atau rejeki itu benar2 datang, penderitaan atau kebahagiaannya tidak sebesar yg kita bayangkan.. jadi, yg kita bayangkan tidak sebesar kenyataannya.
Riset membuktikan, kejadian traumatis seperi perceraian, kecelakaan, gagal jadi caleg, rumah kebakaran, dst, jika telah terjadi lebih dari 3 bulan yang lalu, secara objektif tidak lagi berpengaruh pada tingkat kebahagiaan kita, kecuali kita sendiri yg bereaksi secara keliru hingga menderita berkepanjangan..
sebaliknya, suatu kebahagiaan yg kita tunggu-tunggu seperti lulus kuliah, dapat istri cantik, dapat hadiah besar, dapat pekerjaan idaman, dst.. hanya berpengaruh sedikit pada tingkat kebahagiaan kita 3 bulan setelah kejadian.
Kok bisa seperti itu ya? Ya, karena kita bisa “Membuat kebahagiaan kita sendiri” Happiness can be synthesized, simak ucapan Sir Thomas Browne (1642) ” I am the happiest man alive. I have that in me that can convert poverty to riches, adversity to prosperity, and i am more invulnerable than Achilless .Fortune hath not one place to hit me”.
“Saya adalah orang paling bahagia di dunia, saya memiliki kebahagiaan itu di dalam diri saya (baca: saya bisa menciptakan rasa bahagia itu di dalam diri saya sendiri), dengannya saya bisa mengubah miskin menjadi kaya, kesusahan jadi kemakmuran. Saya lebih tangguh dari Achilles (siapa Achilles? lihat film
Apa yg dialami Thomas Browne dalam ilmu psikologi disebut “Psychological immune system”, dan kita semua memilikinya di dalam otak kita. Kesimpulannya? Seperti yg dikatakan Shakespeare, “Tidak ada penderitaan atau kebahagiaan yg objektif, kita sendirilah yang menciptakannya”.
Jadi, anda merasa depresi , stress, menderita? maka anda sendirilah (tepatnya pikiran andalah) yang bertanggung jawab atas penderitaan anda.
Anda pingin bahagia? silahkan ciptakan sendiri kebahagiaan anda.. you can synthesized happiness, begitu kesimpulan dari hasil penelitian profesor Harvard, Dan Gilbert.
Sekali lagi, happiness is a choice.. so, choose to be happy.. how ?
Referensi dari sahabat saya : Catatan di facebook Ahmad Faiz Zainuddin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar